Skip to content

Sampai di Titik Berserah

    Kadang Tuhan tidak memanggil lewat suara,
    melainkan lewat hentakankesulitan yang tiba-tiba memaksa kita berhenti.
    Langkah yang semula cepat, ambisi yang sedang tinggi,
    semuanya seolah dibekukan dalam sekejap.

    Dan di titik itu,
    pertanyaannya bukan lagi “kenapa ini terjadi?”
    melainkan “bisakah aku menyambut panggilan ini dengan hati yang lapang?”

    Sebab mungkin, di balik terhentinya langkah,
    Tuhan sedang membuka jalan lain
    bukan di luar sana, tapi di dalam diri.
    Agar kita belajar diam,
    belajar mendengar,
    dan belajar kembali pada-Nya dengan sebening kesadaran yang dulu sempat hilang,
    dan menyadarkan bahwa ada hal jauh lebih bermakna dibandingkan dunia ini.

    Hidup ini memang sebuah perjalanan — panjang, berliku, dan tak jarang menyakitkan.
    Kesulitan hadir bukan untuk menjatuhkan,
    melainkan untuk mengingatkan:
    bahwa kasih sayang Tuhan tak selalu datang dalam bentuk kemudahan.

    Ia bisa menyamar menjadi rintangan,
    agar kita menunduk, merenung, dan menyadari betapa banyak hal
    yang dulu kita abaikan saat waktu masih lapang dan hati masih keras.

    Kini aku paham mengapa sang guru selalu berkata lembut,
    “Siap-siap ya, jadi orang kaya.”
    Dulu aku kira itu sekadar motivasi.
    Ternyata itu nubuat tentang fase baru dalam perjalanan jiwa.

    Sebab ketika kekayaan benar-benar datang
    dalam bentuk harta, kemudahan, dan keberhasilan
    di sanalah ujian sejati dimulai.
    Apakah hati masih mampu berserah,
    atau mulai merasa memiliki sesuatu yang sebenarnya hanya titipan?

    Karena sejatinya,
    menjadi hamba bukan hanya kuat saat diuji dengan kesempitan,
    tapi juga tetap tunduk ketika diuji dengan kelapangan.

    Harta, pangkat, dan keberhasilan hanyalah cara lain Tuhan bertanya:
    “Masihkah engkau mengingat-Ku di tengah kelimpahan ini?”

    Dan dalam sujudku, perlahan aku mengerti:
    berserah diri tidak berhenti di tengah kesulitan,
    tapi justru diuji di puncak kemudahan.

    Di sanalah, seorang hamba belajar menjadi kaya
    tanpa kehilangan arah pulang.


    Terima kasih, wahai guru, keluarga,
    dan sahabat-sahabat terdekatku
    yang selalu menyemangati perjalanan ini.