Skip to content

Pelajaran dari Seekor Semut

    Seorang wali pernah duduk lama, sangat lama, hanya untuk memperhatikan seekor semut.

    Semut itu kecil. Hitam. Bergerak pelan. Kadang berhenti, kadang berbelok, kadang seolah berjalan tanpa tujuan. Sang wali memperhatikannya dengan penuh perhatian, sampai pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya.

    Apa yang sedang dikerjakan makhluk sekecil ini?
    Apa perannya di dunia yang luas ini?
    Apa gunanya hidup seekor semut?

    Di tengah keheningan itu, tiba-tiba semut tersebut berhenti.
    Dan dengan izin Allah, ia “menjawab”.

    Bukan dengan suara yang terdengar di telinga, tetapi dengan makna yang langsung jatuh ke dalam hati.

    “Aku diciptakan oleh Allah.
    Tugasku telah ditentukan.

    Di siang hari, aku membaca istighfar tidak kurang dari seribu kali.
    Di malam hari, aku membaca shalawat tidak kurang dari seribu kali.

    Sementara engkau masih sibuk mempertanyakan tugasku di dunia.

    Dan engkau baru mengetahui tugasku
    setelah aku sendiri yang menyampaikannya.”

    Sunyi.

    Bukan karena dunia berhenti bergerak,
    tetapi karena hati yang sedang bercermin.

    Sering kali manusia merasa paling sibuk, paling lelah, paling berkontribusi.
    Kita menimbang hidup orang lain, bahkan makhluk lain, dengan standar kita sendiri.

    Padahal, bisa jadi makhluk yang kita anggap kecil dan tak berarti itu
    telah menunaikan tugasnya dengan sempurna di hadapan Allah.

    Sementara kita,
    masih sibuk bertanya, menilai, dan lupa menengok ke dalam diri.

    Allah kadang tidak menasihati lewat yang besar dan megah.
    Justru lewat yang kecil, sunyi, dan sering kita abaikan,
    agar yang merasa besar ini
    belajar kembali tentang hakikat taat.